Panduan Memilih Kamera Digital


Dengan berbagai macam kamera digital yang ada di pasaran saat ini, pertanyaan paling awal yang ada dikepala setiap fotografer adalah "Kamera mana yang harus saya beli?". Jawaban untuk pertanyaan itu biasanya tergantung pada dana yang tersedia dan jenis fotografi yang ingin ditekuni.
Secara umum ada tiga jenis kamera yang beredar dipasaran, yaitu : kamera point-and-shoot (sering disebut dengan kamera poket/saku), kamera prosumer (compact camera), dan kamera DSLR (digital single lens reflex). Perbedaan utama antara dua jenis kamera yang disebutkan pertama dengan kamera DSLR adalah sistem lensanya. Lensa kamera DSLR bisa digonta-ganti sesuai dengan kebutuhan sedangkan lensa kamera point-and-shoot dan kamera kompak tidak bisa digonta-ganti alias permanen terpasang pada body kameranya. 

Kamera Point-and-Shoot (Kamera Saku)
 
Kamera Point-and-Shoot (Kamera Saku)
Ini merupakan kamera digital yang paling umum, dan paling mudah digunakan, karena fungsinya yang serba otomatis, dengan bentuk yang kecil dan mudah dibawa. Rata-rata kamera jenis ini, pada zaman sekarang, juga sudah dilengkapi fitur-fitur seperti kamera SLR atau prosumer, dan sudah bisa digunakan untuk zoom (jarak jauh) maupun makro (jarak dekat).

Keuntungan
- Harga terjangkau.
- Nyaman, ringan dan cukup kecil untuk dibawa dalam saku atau tas.
- Fungsi serba otomatis.
- Cukup dapat di andalkan sebagai alat untuk mengabadikan momen-momen yang sifatnya tidak memerlukan kreatifitas seni fotografi yang terlalu tinggi.

Kerugian
- Lensa tidak bisa digonta-ganti dan kadang-kadang tidak dapat menggunakan aksesoris lain seperti flash eksternal.
- Seringkali lambat dalam operasi (Shutter Lag), terdapat jeda waktu saat menekan tombol Shutter dan kamera mulai merekam.
- Kreatifitas dalam memotret dibatasi oleh sistem yang serba otomatis
- Tidak ada fitur Manual fokus sehingga kadang-kadang menemui kesulitan dalam memfokuskan objek yang diinginkan.
- Ukuran sensor gambar digital nya kecil sehingga hasil bidikkan ada yang terpotong pada foto yang dihasilkan.

Kamera Prosumer (Compact Camera)
Kamera Prosumer Canon PowerShot G12
Kamera jenis ini muncul untuk mereka yang antusias terhadap fotografi, tetapi belum memiliki dana yang cukup untuk membeli kamera profesional sekelas DSLR (Digital Single Lens Reflex). Kamera ini mirip dengan kamera point-and-shot namun ukurannya lebih besar, memiliki zoom yang lebih besar serta memiliki fungsi kamera yang setara dengan kamera DSLR. Yang membedakannya dengan kamera DSLR adalah lensanya yang tidak interchangable atau tidak bisa diganti. 

Keuntungan
- Harga relatif lebih murah daripada harga kamera DSLR kelas terbawah.
- Aperture dan Shutter Speed bisa diatur secara manual.
- Secara fisik lebih besar dari kamera point-and-shoot sehingga memberikan pegangan yang lebih baik pada body kamera.
- Lensa kamera prosumer biasanya memiliki jangkauan focal length yang lebar atau disebut juga lensa sapu jagad.
- Memiliki fitur tambahan yang tidak terdapat pada kamera point-and-shot seperti layar LCD yang bisa diputar.

Kerugian
- Lensa tidak bisa digonta-ganti.
- Lebih berat dibandingkan dengan kamera point-and-shoot.
- Tidak nyaman dibawa jika dibandingkan dengan kamera point-and-shoot.
- Ukuran sensor gambar digital nya kecil dibandingkan kamera DSLR (tetapi lebih besar dari kamera point-and-shoot) sehingga hasil bidikan ada yang terpotong.
- Aksesoris lain tidak bisa dipasang pada kamera seperti flash eksternal.

Seiring dengan kemajuan teknologi kamera, pada bulan Oktober 2008 muncul kamera prosumer yang lensanya bisa digonta-ganti yang dipelopori oleh kamera Panasonic Lumix DMC-G1. Jenis kamera ini disebut sebagai kamera Digital Single Lens Mirrorless (DSLM) atau ada juga yang menyebut kamera Mirrorless Interchangeable Lens (MIL) atau kamera Electronic Viewfinder with Interchangeable Lens (EVIL).
Kamera DSLM ini sudah mempunyai kemampuan yang hampir menyamai DSLR termasuk kemampuan gonta-ganti lensa dan sebagian kamera DSLM sudah ada yang mempunyai sensor gambar digital yang berukuran sama dengan kamera DSLR. Perbedaannya hanyalah pada jendela bidik (view finder) dimana DSLR mempunyai jendela bidik untuk melihat objek yang melewati lensa dan dipantulkan oleh sebuah mirror (kaca pemantul). Sedangkan untuk DSLM tidak mempunyai jendela bidik, objek dilihat melalui sensor gambar digital yang ditampilkan melalui sebuah layar LCD.
Pelopor kamera DSLM Panasonic Lumix DMC-G1
Salah satu kamera DSLM terbaru Sony Alpha NEX-5

Kamera DSLR (Digital Single Lens Reflex) 
Kamera DSLR
Saat ini kamera DSLR adalah kamera yang mumpuni untuk digunakan jika ingin serius dalam menggeluti dunia fotografi profesional. Perbedaan utama yang membedakan kamera DSLR dengan jenis kamera yang lain adalah kemampuan dalam gonta-ganti lensa dan objek yang dilihat di jendela bidik adalah yang melewati lensa yang kemudian dipantulkan oleh mirror (kaca pemantul).

Keuntungan
- Kamera DSLR memiliki kemampuan untuk menggunakan berbagai macam lensa, mulai dari
lensa yang sangat luas (wide lens) hingga lensa dengan zoom yang sangant panjang (lensa tele).
- Operasional kamera DSLR adalah jauh lebih cepat dibandingkan jenis kamera yang lain (jeda antar pemotretan lebih cepat).
- Flash eksternal dapat dipasangkan ke kamera sehingga kamera akan mempunyai pencahayaan yang lebih baik dari pada flash built-in.
- Mempunyai rentang eksposure yang lebih tinggi, misalnya mempunyai rentang ISO yang lebih tinggi.
- Kamera DSLR ukuran yang lebih besar untuk membuat pegangan yang lebih baik.

Kerugian
- Harga kamera DSLR lebih mahal dibandingkan dengan jenis kamera yang lain secara umum.
- Karena ukurannya lebih besar dan kadang-kadang membutuhkan beberapa jenis lensa, kamera DSLR tidak fleksibel dan tidak nyaman untuk dibawa-bawa.

Kesimpulan
Dari ketiga jenis kamera tersebut diatas, pilihan yang terbaik adalah jika dilihat dari tujuan membeli kamera yaitu:
1. Kamera Point-and-Shoot: berfungsi untuk dokumentasi biasa seperti acara kantor, piknik keluarga, dll.
2. Kamera Prosumer: berfungsi untuk mempelajari fotografi tetapi menginginkan kamera yang tidak perlu gonta ganti lensa.
3. Kamera DSLR: berfungsi untuk memperdalam ilmu fotografi dan untuk tujuan fotografi profesional.




Tips dan Trik Fotografi Untuk Memotret Anak Kecil


Ekspresi anak adalah keajaiban. Mood apapun yang terpancar dari wajahnya atau bahasa tubuhnya akan membuat orang tua terpesona dan terkagum-kagum. Mereka seolah punya dunianya sendiri yang tidak bisa dimasuki oleh orang dewasa. Dunia inilah yang membuatnya begitu khusus, tidak bisa ada paksaan bagi mereka, yang ada hanyalah pendekatan yang mendekati cara di dunia mereka tersebut.
Dengan kondisi tersebut di atas, maka mengabadikan expresi anak dalam dunianya ke dalam foto menjadi khusus juga. Pendekatanya harus menggunakan pendekatan dunia mereka dan untuk alasan itu saja, foto anak mempunyai tantangannya tersendiri. Berikut adalah tips dan trik untuk memotret anak kecil:


1. Sabar Menunggu Momen yang Tepat
Anak-anak biasanya aktif dan tidak selalu bersedia untuk mendengarkan instruksi, sehingga mereka seakan menjadi bos selama pemotretan. Bicaralah dengan mereka, bangun hubungan dengan mereka dalam waktu yang singkat, sehingga mereka merasa nyaman dengan kehadiran Anda. Perhatikan mereka dan Anda harus siap dengan kamera Anda untuk saat-saat yang baik untuk dipotret, untuk hal ini dibutuhkan kesabaran agar mendapatkan momen yang baik dan menarik untuk dipotret, jangan lakukan dengan terburu-buru karena akan menghasilkan foto yang biasa-biasa saja.

2. Foto Anak Kecil Saat Mereka Bermain dengan Mainan
Anak-anak biasanya sangat melekat pada mainannya, terutama mainan favorit mereka. Potret lah mereka saat bermain dengan mainannya dan cari momen yang menunjukkan hubungan ketertarikan antara mereka dan mainannya. Jika Anda ingin, Anda bisa fokus pada tangan mereka saat bermain dengan mainannya saja tanpa memotret wajahnya.

Photo Source
3. Perhatikan Latar Belakang (Background) dan Latar Depan (Foreground)
Kecuali ada tujuan khusus, hindari pemotretan di lingkungan dengan latar depan dan latar belakang yang berantakan dan yang tidak diinginkanHindari memiliki sesuatu vertikal di belakang mereka yang akan terlihat seperti seolah-olah itu muncul dari kepala mereka. Objek utama yang Anda perhatikan adalah anak-anak, maka hilangkan objek yang tidak diinginkan untuk menekankan perhatian pada objek.

4. Warna Itu Penting
Jika Anda tahu tempat yang akan Anda tuju, rencanakan secara matang dengan memilih kombinasi yang baik dari warna antara pakaian anak-anak dan latar belakang / sekitarnya. Hindari memakai warna yang sama / serupa dengan lingkungan, karena akan membuat anak-anak kurang menonjol dalam foto.

5. Lakukan Pemotretan di Pagi atau Sore Hari

Saat memotret di luar ruangan, sebaiknya dilakukan di pagi atau sore ketika sudut matahari rendah dan kualitas cahaya lebih baik dan lebih lembut. Jika tidak memiliki pilihan selain memotret pada saat sudut matahari tinggi di waktu tengah hari, cobalah mencari tempat teduh di bawah pohon atau di mana matahari terhalang oleh gedung-gedung tinggi.

6. Gunakan Jendela atau Tirai Untuk Mengurangi Cahaya

Saat pemotretan dilakukan di dalam rumah, usahakan posisi anak di dekat jendela dengan wajahnya menghadap jendela atau salah satu sisi wajahnya diterangi cahaya dari jendela. Jika Anda memiliki tirai putih yang tipis, gunakan tirai tersebut untuk menyebarkan cahaya dan buat pencahayaan yang lembut jika diperlukan.

7. Fokus Pada Mata Mereka

Bagian terindah dari anak-anak adalah mata, untuk itu cobalah lakukan pemotretan dengan fokus pada mata mereka ketika Anda memotret dengan sudut pada wajah.

Photo Source
8. Carilah Ekspresi, Emosi dan Hubungan
Menangkap ekspresi anak-anak, emosi dan hubungan mereka dengan orang tua atau teman akan membantu membuat foto yang lebih baik dan bercerita. Jadi carilah wajah-wajah lucu, tawa, tawa dan bahkan menangis.

Photo Source
9. Rule of Third
Cobalah berkreasi dengan komposisi. Jika Anda biasa memotret anak dengan menempatkan mereka di tengah foto, coba lakukan pendekatan yang berbeda sekarang. Tempatkan posisi mereka dengan mengikuti Rule of Third (posisi mereka ada di titik persimpangan garis jika bidang foto dibagi menjadi 9 bagian yang sama besar). 
Photo Source
10. Sejajarkan Posisi Kamera Dengan Mata Mereka
Memotret anak-anak dari sudut yang tinggi menciptakan perspektif tidak menyenangkan. Bawa posisi kamera Anda sejajar mata mereka dengan cara jongkok atau berbaring.
Photo Source



12 Kesalahan Fotografer Pemula dan Amatir

Seorang fotografer dalam dunia fotografi juga tak lepas dari kesalahan. Namun jika kesalahan teknis fotografi ini setiap kali memotret terjadi, maka dia harus giat lagi belajar memotret. Berikut ini berbagai kesalahan yang sering dilakukan dan dialami oleh para fotografer pemula dan amatir (berdasarkan survey). 

1. Baterai Habis
Kesalahan tertinggi pada pemakai kamera digital baik kamera saku maupun yang DSLR, yaitu sampai 35,20%, adalah seringnya baterai habis. Kamera digital memang hanya bekerja kalau ada baterai di dalamnya. Maka, kamera digital yang laris umumnya punya baterai yang awet, minimal bisa untuk 500 kali pemotretan. Kesalahan ini biasanya disebabkan beberapa hal, yaitu (1) persiapan yang kurang matang, sehingga lupa mengisi penuh baterai sebelum digunakan; (2) seringnya fotografer melihat hasil foto di LCD setiap kali usai jepret karena kurang yakin akan hasilnya; (3) karena lupa tidak mematikan power kamera usai pemakaian, atau langsung dimasukkan dalam tas kamera.
2. Gambar Blur akibat Kamera Goyang
Kesalahan pemula gambar blur akibat kamera goyang saat digunakan mencapai 29,30%. Goyang pada kamera alias camera shake memang kesalahan pemakai. Namun, kamera yang baik akan meminimalkan hal ini dengan bentuknya yang ergonomis dan shutter speed yang lebih tinggi. Saat ini, kamera maupun lensa juga telah dilengkapi fasilitas VR (vibration reduction) untuk Nikon atau IS (image stabilizer) untuk Canon. Fungsinya adalah untuk mengurangi gambar blur diatas, jadi jika ingin beli kamera, pilihlah yang ada fasilitas ini.

3. Gambar Blur akibat Objek Foto Bergerak
Kesalahan ini sering dilakukan hingga nilainya mencapai 22,70%. Kesalahan ini adalah akibat pemakai salah memperkirakan kecepatan obyek foto dengan shutter speednya.

4. Time Lag
Kesalahan ini terjadi karena terlambatnya memotret adegan akibat kelambatan kamera bereaksi atau bisa juga tidak pekanya sang fotografer. Time lag, yaitu jeda antara saat shutter ditekan dan saat kamera bereaksi.

5. Salah Fokus (Miss Focus)
Kesalahan ini persentasenya 16,80%. Kesalahan ini umumnya menyangkut focusing pit alias fokus lari ke bidang nun jauh di sana. Atau, bisa juga dikarenakan auto focus di kamera tidak di lock, sehingga ketika memotret focusnya berubah ke obyek yang lain. Hal ini bisa diakali dengan memperkecil aperture dengan angka lebih besar agar sudut fokusnya lebih lebar.

6. Underexposur (UE) atau Foto Gelap
Kesalahan ini juga sering dilakukan oleh fotografer yaitu, foto terlalu gelap (19,30%). Kejadian ini dikarenakan kurangnya perkiraan fotografer dengan kondisi lighting disekeliling obyek yang akan di foto. Tips mudahnya untuk mengurangi kejadian ini, sang fotografer harus menyalakan lampu flash, baik yang di body camera atau flash eksternal.

7. Memori Penuh
Walaupun sepertinya lucu, rupanya kejadian ini cukup sering dialami oleh fotografer, yaitu memori (kartu CF= compact flash/SD= secure digital) penuh (16,50%). Secara tidak sengaja, ini juga sering terjadi. Sehingga, setiap akan memotret, ketika dirumah cek terlebih dahulu memory card yang Anda gunakan. Jika penuh, copy-lah terlebih dahulu di harddisk komputer Anda.

8. Overexposure (OE) atau Foto Terlalu Terang
Kesalahan ini juga sering terjadi, yaitu foto terlalu terang (12,20%). Hal ini diakibatkan oleh terlalu banyaknya cahaya yang mengenai obyek yang kita foto. Namun, terkadang, beberapa fotografer sangat suka memainkan OE ini dalam karyanya. Tapi, untuk obyek tertentu, foto OE ini juga tidak tepat.

9. Salah WB (White Balance)
Salah white balance sering dilakukan (6,8%). Akibat dari salah WB ini adalah warna yang kurang tepat atas obyek yang kita foto. Kadang terlalu kuning, terlalu biru, kemerahan, dll. Tipsnya agar tidak terjadi adalah dengan menempatkan WB pada Auto (A) saja.

10. Salah Penyetelan Ukuran Foto (Pixel)
Salah penyetelan piksel (10%) ini akan berakibat fatal apabila ketika kita membutuhkan foto dengan ukuran besar. Sebagai contoh, yang seharusnya foto kita gunakan untuk cetak besar, misalkan 24R, jika foto hanya ukuran S (small = +2000 pixel), maka jika di cetak akan pecah atau noise. Nah, sangat aman jika kita men-setting kamera kita dengan ukuran L (large) dengan model Fine atau RAW.

11. Salah Kecepatan Rana (Shutter Speed)
Salah kecepatan rana (5,4%), bisa berakibat pada obyek yang blur, shake, atau gelap. Settingan yang paling mudah adalah pilih model full Auto pada kamera Anda, atau (A/P) Aperture priority sehingga kecepatan menyesuaikan dengan cukup baik.

12. Salah ISO
Salah ISO (International Organisation for Standardization) sekitar 3,7%. Akibatnya adalah foto akan noise atau bintik-bintik, akan gelap, dan kualitasnya kurang sempurna. Pada kamera tertentu, memiliki kualitas yang masih bagus apabila ISO-nya masih di bawah angka tertentu (400, 800, 1000 dll). Oleh karena itu, jelilah melihat kondisi foto yang akan kita potret.

source: http://www.poetrafoto.com/

Tips Untuk Mendapatkan Foto Digital yang Tajam

Photo by Shikhei Goh
Mendapatkan foto digital yang sangat tajam adalah sesuatu yang paling diinginkan oleh setiap fotografer namun foto yang bersih dan tajam kadang sulit untuk peroleh karena tidak tahu bagaimana cara untuk mendapatkannya. Sebelum mulai mengeksplorasi cara meningkatkan ketajaman foto, alangkah lebih baiknya berbicara terlebih dahulu tentang penyebab utama kurang tajamnya suatu foto, yaitu: 
  • Tidak Fokus - Kesalahan yang paling sering terjadi untuk foto yang tidak tajam adalah foto yang tidak fokus.  Hal ini mungkin akibat dari fokus pada bagian yang salah pada objek, terlalu dekat dengan objek sehingga fokus tidak bisa diperoleh, kesalahan memilih aperture yang menghasilkan kedalaman foto yang sangat sempit (angka f kecil, misal f2) atau mengambil foto terlalu cepat tanpa memeriksa terlebih dahulu di jendela bidik. 
    Tidak fokus
     
  • Objek yang bergerak - adalah bentuk lain dari foto yang blur akibat mengambil objek yang bergerak dengan menggunakan shutter speed yang lambat. 
    Objek yang bergerak dengan shutter speed yang lambat
    
  • Kamera goyang - goyangan pada kamera biasanya berasal dari pergerakan dari fotografer itu sendiri ketika mengambil foto sehingga menghasilkan foto yang blur.
    Blur akibat kamera goyang pada saat menekan tombol Shutter
     
  • Noise - Pada foto banyak ditemukan bintik-bintik dari piksel gambar, biasanya berasal dari kesalahan dalam pengaturan ISO, semakin besar ISO tingkat noise nya juga semakin besar.
    Bintik-bintik pada piksel gambar (Noise)

Berikut 10 tips dasar dalam pengambilan gambar untuk mendapatkan foto yang tajam:

1. Pegang kamera dengan benar pada saat memotret
Kebanyakan blur pada foto disebabkan oleh kamera yang goyang ketika memotret (kamera bergerak sepersekian detik saat Shutter ditekan). Cara yang terbaik untuk mengatasi kamera goyang saat pemotretan adalah dengan menggunakan tripod akan tetapi tidak praktis untuk dibawa karena ukurannya lumayan makan tempat, cara praktis nya adalah memegang kamera dengan benar.




2. Gunakan tripod
Penggunaan tripod sangat membantu dalam mengatasi kamera yang goyang pada saat memotret meskipun penggunaanya tidak praktis akan tetapi foto yang dihasilkan lebih tajam dan lebuh bagus.


3. Pilih Shutter Speed (Kecepatan Rana) yang tepat
Hal pertama yang ada dalam pikiran untuk mendapatkan foto yang tajam adalah memilih Shutter Speed yang tepat dalam pemotretan. Semakin cepat Shutter Speed yang dipilih maka foto yang didapat semakin tajam dan terhindar dari blur akibat kamera goyang. Berikut aturan pemilihan Shutter Speed:
- jika Anda memiliki focal length lensa 50mm, jangan memotret dengan Shutter Speed lebih lambat dari 1/60 detik.
- jika Anda memiliki focal length lensa 100mm, lakukan pemotretan pada 1/125 detik atau lebih cepat.
- jika Anda memiliki focal length lensa 200mm, lakukan pemotretan pada 1/250 detik atau lebih cepat.


4. Pilih Aperture (Diafragma) sesuai dengan kebutuhan
Aperture mempunyai efek terhadap kedalaman fokus suatu foto (depth of field), menurunkan aperture (menaikkan nilai f) akan memberikan kedalaman fokus yang sama baik objek yang jauh maupun dekat. Sebaliknya jika menaikkan aperture (menurunkan nilai f) akan memberikan kedalaman fokus yang sempit dimana latar belakang (background) dan latar depan (foreground) mempunyai fokus yang berbeda. Perlu diingat semakin kecil aperture yang digunakan, semakin lama Shutter Speed yang diperlukan dan tentu saja untuk objek yang bergerak sulit didapatkan fokus yang sama.


5. Hindari penggunaan ISO yang tinggi
Unsur ketiga dari segitiga eksposure adalah ISO yang memiliki pengaruh langsung terhadap noise pada foto. Jika memilih ISO yang lebih besar maka shutter speed yang digunakan dapat lebih cepat dan aperture lebih kecil akan tetapi pemilihan ISO yang terlalu tinggi akan menyebabkan noise sehingga foto tidak terlalu tajam.


6. Gunakan kamera dan lensa yang mempunyai fitur Image Stabilisation
Banyak kamera dan lensa saat ini dilengkapi dengan fitur Image Stabilisation (IS) yang membantu mengurangi dampak kamera yang goyang ketika memotret sehingga foto yang dihasilkan bisa lebih tajam. Tapi perlu diingat bahwa IS hanya membantu menstabilkan pergerakan kamera bukan menstabilkan pergerakan objek.


7. Manfaatkan fokus dengan tepat
Teknik yang paling umum untuk mendapatkan foto yang tajam adalah dengan pemanfaatan fokus dari lensa. Kebanyakan pengguna kamera digital selalu menggunakan fitur Auto Focus untuk memotret akan tetapi jangan menganggap bahwa kamera selalu mendapatkan fokus dengan benar terhadap objek yang diinginkan. Jika menggunakan Auto Focus, cek ulang secara visual apakah objek yang diinginkan sudah dalam fokus atau belum sebelum memotret karena hal ini akan mempengaruhi ketajaman foto. Jika tidak yakin dengan Auto Focus gunakan Manual Focus dengan cara memutar ring fokus pada lensa hingga mendapatkan fokus pada objek yang diinginkan, hal ini sangat membantu dalam memotret dengan menggunakan Aperture yang besar (nilai f kecil) yang menghasilkan foto dengan kedalaman fokus yang sempit.


8. Gunakan lensa yang bagus
Jika Anda mempunyai budget yang lebih maka belilah lensa yang lebih bagus untuk mendapatkan kualitas gambar yang lebih tajam daripada selalu menggunakan lensa standar. Untuk lensa Canon, kualitas yang lebih bagus ada pada lensa L-series (Lensa seri profesional), kualitas gambarnya lebih tajam dari lensa standar.


9. Bersihkan peralatan kamera secara teratur
Setiap selesai menggunakan kamera apalagi digunakan diruangan terbuka, jangan lupa bersihkan peralatan kamera seperti lensa dan sensor kamera dari noda, debu dan kotoran karena hal tersebut akan mempengaruhi hasil foto (menimbulkan bercak pada foto).

10. Lakukan pemotretan pada sweet spot lensa yang digunakan
Sweet spot merupakan aperture tertentu dimana lensa akan menghasilkan foto yang paling tajam dan masing-masing lensa mempunyai sweet spot yang berbeda, untuk itu kenali dan pelajari sweet spot lensa yang digunakan agar menghasilkan foto yang tajam. Sweet spot lensa biasanya berada dua stop diatas batas maksimal kemampuan aperture lensa. Misal, untuk lensa f/2.8 maka sweet spot-nya ada di f/5.6. 

25 Tips Komposisi Dalam Fotografi

Pada artikel sebelumnya telah dipelajari tentang elemen-elemen komposisi dalam fotografi yaitu garis, bentuk, wujud, tekstur dan pola. Selanjutnya akan dibahas tentang tips-tips komposisi agar gambar yang dihasilkan lebih bagus dan menarik untuk dilihat.
Salah satu masalah yang paling umum yang dihadapi fotografer pemula adalah bagaimana menemukan komposisi objek yang bagus dalam gambar. Seperti halnya makanan, komposisi adalah masalah selera masing-masing fotografer akan tetapi ada beberapa standar yang telah disepakati untuk panduan komposisi yang baik. Berikut adalah 25 tips yang diambil dari berbagai referensi untuk menghasilkan komposisi yang menarik, akan tetapi ini hanya lah panduan saja bukan merupakan suatu aturan yang baku karena masalah komposisi adalah masalah selera masing-masing fotografer.

1. Identifikasi objek yang ingin ditonjolkan dengan menerapkan fokus yang jelas terhadap objek.  
Kemera memberikan fokus yang jelas pada objek yang ditonjolkan
2. Tarik perhatian ke objek utama dalam gambar dengan menggunakan warna, cahaya pada objek, membingkai objek dalam jendela atau pintu, dll. 
3. Terlalu banyak menampilkan objek pendukung akan membuat gambar terlihat seperti penuh dan komposisi nya berantakkan. Buang objek pendukung yang tidak membantu dalam penyampaian pesan dalam gambar yang ditampilkan, usahakan sesederhana mungkin karena simple is best. 
Gambar sederhana tanpa banyak objek pendukung
4. Hilangkan hal-hal yang tidak berhubungan dengan objek utama atau ubah sudut pengambilan gambar agar hal yang tidak berhubungan tersebut tidak tampak dalam gambar.
Hal-hal yang tidak berhubungan dengan objek harus dihilangkan
5. Periksa ruang kosong dalam gambar, jangan terlalu banyak meninggalkan ruang kosong karena hal tersebut akan mengecilkan objek utama. 
Gambar sebelah kiri terlalu banyak ruang kosong pada objek utama. Setelah dikomposisi ulang gambar terlihat lebih menarik (gambar sebelah kanan)
6. Penuhi frame dengan objek utama dan tidak perlu menambahkan latar belakang (background) untuk memperkuat pesan dalam gambar.
Objek utama memenuhi frame gambar
7. Periksa tepi dari frame gambar, jangan sampai tangan dan kaki objek terpotong tanpa alasan yang kuat.
8. Periksa apakah ada sesuatu yang muncul ke dalam gambar dari samping. Apakah ada cabang pohon, kabel listrik, dll yang masuk ke dalam bidang bidikkan yang dapat mengalihkan perhatian ke objek utama? Ubah sudut pengambilan gambar untuk menghilangkan hal-hal tersebut.
9. Manfaatkan penggunaan titik pandang (Point of View, POV) agar gambar lebih menarik. Jangan terlalu terpaku dengan pengambilan gambar dari depan objek.
Gambar diambil dari titik pandang bawah
10. Gunakan rule of third. Bayangkan garis imajiner yang membagi gambar menjadi sembilan bagian yang sama kemudian tempatkan objek pada titik potong garisnya.
Objek berada pada titik potong garis
11. Jika ingin memotret manusia, usahakan mata berada diatas garis tengah.
Mata berada diatas garis tengah gambar
12. Upayakan keseimbangan objek. Perhatikan komposisi dan tentukan apakah ada bagian yang miring dari sudut pandang pemerhati gambar.
13. Mata akan tertuju kepada bagian yang lebih terang dari gambar, jadi tempatkan objek utama pada bagian yang lebih terang.
Bendera sebagai objek utama berada pada bagian yang lebih terang
14. Tegaskan latar depan (foreground) objek dan perhatikan background, jangan sampai ada hal-hal mengganggu objek utama.
15. Untuk memperkuat kesan yang tinggi, potret objek secara vertikal dan untuk memperkuat kesan yang lebar, potret objek secara horizontal.
16. Gunakan pola, khususnya pola yang berulang akan membuat gambar lebih menarik.
Pola berulang dalam gambar
17. Manfaatkan garis (leading line) untuk mengarahkan mata ke bagian yang ingin dituju.
Pemanfaatan garis untuk mengarahkan mata
18. Gambar dengan elemen kurva S bagus digunakan untuk mengarahkan mata.
Contoh gambar dengan kurva S
19. Perhatikan posisi kamera terhadap mata objek yang akan dipotret. Sebagai contoh, posisi jongkok untuk memotret anak-anak agar kamera sejajar dengan mata anak-anak. 
Kamera dan mata anak-anak dalam posisi sejajar
20. Pastikan ada pemisahan antara beberapa mata objek untuk menghindari penggabungan enak dipandang.
21. Hindari meletakkan objek pada bagian tengah foto tanpa alasan yang kuat (gunakan aturan Rule of Third).
22. Hindari meletakkan garis horizontal pada bagian tengah foto.
Garis horizontal berada diatas garis tengah
23. Hindari memotret garis horizontal yang melewati kepala manusia atau hewan.
24. Jangan biarkan garis horizontal bergabung dengan objek penting dalam gambar.
25. Sesaat sebelum mengambil gambar perhatikan lagi di jendela bidik (view finder), pastikan tidak ada hal yang terlewatkan dan pastikan sesuai dengan keinginan.